Back
GERAKAN DAN DEKLARASI BERSAMA “PEMBERANTASAN KEJAHATAN TERHADAP TUMBUHAN DAN SATWA LIAR”
Author Susi
Monday, May 14, 2018 1:56 pm
GERAKAN DAN DEKLARASI BERSAMA “PEMBERANTASAN KEJAHATAN TERHADAP TUMBUHAN DAN SATWA LIAR”

Indonesia dengan kekayaan biodiversitasnya yang sangat tinggi menghadapi ancaman besar berupa eksploitasi tumbuhan dan satwa liar secara masif. Menurut Dirjen Penegakkan Hukum (Gakkum) KLHK, Rasio Ridho Sani, kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar (TSL) bahkan telah menempati peringkat ke-3 nasional setelah kejahatan narkoba dan perdagangan manusia. Nilai transaksi yang berputar mencapai lebih dari 13 trilyun rupiah per tahun berdasarkan penelusuran PPATK. Perlu upaya dan komitmen bersama dari semua pihak untuk memberantas dan menghentikan perdagangan ilegal TSL baik yang masih hidup maupun berbagai turunan dan produknya demi mencegah semakin langkanya populasi mereka di alam yang dapat berujung pada kepunahan.

Senin (30/4) yang lalu, PKBSI hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Ditjen Gakkum KLHK di Auditorium Manggala Wanabakti, berupa gerakan dan deklarasi bersama dari seluruh pihak untuk memberantas kejahatan terhadap TSL. Selain itu, dilakukan pula pengenalan sistem surveillance dan intelijen berbasis teknologi informasi yang disebut SPARTAN, untuk memantau perdagangan satwa ilegal secara online melalui Cyber Patrol dan yang terintegrasi dengan Center of Intelligence Ditjen Gakkum KLHK.

Acara diawali dengan laporan Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan (Ditjen Gakkum) KLHK, Drh. Indra Exploitasia. Saat ini, telah terkumpul seluruh barang bukti hasil sitaan dari BBKSDA Jawa Barat, BKSDA DKI Jakarta, dan Ditjen Gakkum KLHK yang terdiri dari 117 ekor opsetan satwa, 248 kg sisik trenggiling, 6168 lembar kulit reptil, 366 buah bagian tubuh satwa liar (kepala, tanduk, kuku), 14 lembar kulit (harimau, macan tutul, beruang), 66 potongan tanduk rusa, dan lain-lainnya sejumlah 16 dus. Barang bukti tersebut akan dimusnahkan dengan teknologi thermal (Kiln Semen) untuk mengurangi emisi gas hasil pembakaran.

Dalam sambutannya, Dirjen Gakkum KLHK, Rasio Ridho Sani, juga mengamini laporan yang telah dipaparkan oleh Indra. “Upaya pemberantasan ini perlu didukung oleh semua pihak baik dari TNI, Polri, Kejaksaan, Kementerian terkait, dan seluruh pihak dan mitra yang terkait,” ujar Rasio. Rasio juga mengenalkan aplikasi SPARTAN. Petugas di lapangan akan memanfaatkannya untuk memonitor kawasan hutan dan dapat melaporkan secara langsung ke KLHK dan instansi terkait jika ada pelanggaran yang terjadi sehingga dapat dilakukan penanganan lebih cepat.

Acara diakhiri dengan penandatanganan Berita Acara Pemusnahan Barang Bukti yang disaksikan oleh perwakilan instansi yang hadir dalam acara tersebut. Seluruh barang bukti berjumlah 8 truk akan dibawa ke Pelabuhan Ratu, Lebak, Banten, sebagai lokasi pemusnahan.

PKBSI sebagai wadah tunggal organisasi yang bergerak di bidang konservasi eksitu, mendukung penuh gerakan ini dan berkomitmen kuat untuk memberantas kejahatan terhadap TSL. PKBSI mengutuk oknum yang memburu dan memperdagangkan TSL yang dilindungi karena bagaimanapun juga mereka adalah kekayaan bangsa yang wajib kita jaga bersama. Kita berharap melalui acara ini, seluruh pihak dapat saling mendukung untuk tercapainya tujuan pemberantasan kejahatan terhadap TSL.