Back
Implementasi Rekomendasi GSMP Pertama : Keberhasilan Perpindahan Banteng
Author Susi
Wednesday, Aug 15, 2018 6:03 pm
Implementasi Rekomendasi GSMP Pertama : Keberhasilan Perpindahan Banteng

Global Species Management Plans (GSMP) merupakan suatu konsorsium kegiatan pengelolaan satwa dalam Lembaga Konservasi (LK) dengan tujuan untuk pengelolaan populasi satwa eks situ dengan tujuan meningkatkan nilai genetik individu yang ada di LK pada tingkat nasional dan internasional. Hal ini dapat tercapai apabila pengelolaan perkawinan (perkembangbiakan) satwa dilakukan secara terkontrol, terpadu dan bersama-sama antara semua LK. Anggota konsorsium terdiri atas organisasi Lembaga Konservasi di Amerika Utara, Eropa, Australia & Jepang bekerjasama dengan PKBSI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jenis satwa Indonesia yang masuk dalam program GSMP adalah harimau Sumatera , anoa, banteng, dan babirusa.

Dalam pengelolaan ini, perpindahan satwa dari satu LK ke LK lainnya perlu dilaksanakan. Rekomendasi perpindahan dan upaya perkembangbiakan satwa harimau Sumatra, anoa, banteng dan babirusa telah dibuat sebagai salah satu hasil kegiatan PKBSI-GSMP. Rekomendasi GSMP pertama dihasilkan pada tahun 2016, diawali dengan perpindahan tiga (3) banteng jantan yang melibatkan tiga LK Taman Safari (TSI Bogor, TSI Prigen, dan Bali Safari & Marine Park) serta Taman Nasional Baluran. Rincian rekomendasi perpindahan banteng adalah :

1)   Banteng jantan Selamet (2502) dari TSI Prigen dipindahkan ke Bali Safari & Marine Park, Gianyar.

2)   Banteng jantan Doni (2322) dari TN Baluran dipindahkan ke TSI Bogor.
3)   Banteng jantan Telepa (2264) dari Bali Safari & Marine Park ke TN Baluran.

Rekomendasi ini bertujuan untuk menjaga, bahkan meningkatkan keragaman genetik populasi banteng yang ada di LK melalui analisis hubungan kekerabatan individu dan menghindari terjadinya perkawinan sedarah. Banteng yang dipindahkan adalah individu dengan nilai genetik yang tinggi sehingga keturunan yang akan dihasilkan dengan pasangan banteng betina di tempat barunya akan tetap mempunyai nilai genetik yang tinggi pula.

Menjadi persyaratan proses perpindahan satwa mengikuti Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.63/Menhut-II/2013 tentang Tata Cara Memperoleh Spesimen Tumbuhan dan Satwa Liar Untuk Lembaga Konservasi. Ternyata proses administrasi pengajuan perpindahan banteng kepada Dirjen KSDAE memerlukan waktu yang cukup panjang. Berbagai dokumen perlu disiapkan dan satwa yang akan dipindahkan perlu diperiksa kesehatannya termasuk juga kesiapan kandang dan fasilitas lainnya di LK yang akan menerima satwa. Semua pihak yang terlibat dalam rencana perpindahan sudah berkomitmen untuk melaksanakan rekomendasi ini demi kepentingan bersama dalam pengelolaan banteng di Indonesia.

Setelah semua persyaratan administrasi dilengkapi, SK Dirjen sebagai izin resmi perpindahan satwa dapat dikeluarkanBerdasarkan SK Dirjen tersebut, LK dapat mengajukan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa-Dalam Negeri (SATS-DN) sebagai surat penghantar perpindahan satwa. Beberapa dokumen pelengkap diperlukan sesuai dengan peraturan di masing-masing provinsi tertentu, misalnya Izin Gubernur di wilayah provinsi Bali untuk satwa yang akan dipindahkan keluar Bali serta Izin Pelayanan Perizinan Terpadu untuk satwa yang akan dipindahkan keluar dari Jawa Timur.

Walaupun melalui serangkaian proses yang panjang, maka tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Perpindahan pertama yang berhasil dilakukan adalah banteng Doni dari TN Baluran ke TSI Bogor yang terjadi pada 19 Juli 2018. Doni sudah dilatih untuk masuk ke dalam kandang angkut yang berasal dari TSI Prigen beberapa hari sebelum keberangkatan. Dengan bantuan hampir seluruh staff lapang di TN Baluran, Doni berhasil masuk dalam kandang angkut dan siap untuk menempuh perjalanan ke Bogor. Dengan didampingi dokter hewan dari TN Baluran dan 2 orang staff TN Baluran, Doni singgah dahulu ke TSI Prigen untuk diperiksa kondisinya. Setelah melanjutkan perjalanan panjangnya, Doni pun tiba di TSI Bogor pada 21 Juli 2018. Doni langsung menempati kandang karantina di TSI Bogor. Dia terlihat sehat dan sudah langsung mau makan rumput yang disediakan di kandang barunya.

Perpindahan banteng yang lainnya pun segera menyusul. Pada 28 Juli 2018, banteng jantan Selamet berpindah dari TSI Prigen ke Bali Safari. Beberapa hari sebelum perpindahannya, kondisi kesehatan Selamet terus dipantau dengan penimbangan badan, conditioning training, dan pemeriksaan keberadaan mikrochip yang telah dipasang sebagai dasar identifikasi individu. Selamet dipindahkan memakai angkutan truk terbuka. Perjalanan melalui darat dan laut ditempuh dalam waktu satu hari. Setelah melalui badan karantina di Ketapang dan Gilimanuk, truk TSI Prigen segera melanjutkan perjalanan menuju Bali Safari dan sampai keesokan siangnya. Selamet tiba di Bali Safari dan langsung menempati kandang karantina yang sudah disiapkan.

Perpindahan banteng terakhir yang terjadi adalah banteng jantan Telepa dari Bali Safari menuju Taman Nasional Baluran. Kepala Balai TN Baluran, Bambang Sukendro, menerima langsung banteng jantan Telepa yang dikirim dari Bali Safari pada tanggal 30 Juli 2018. Perjalan perpindahan Telepa selama 1 hari dan langsung menempati kandang penggembalaan yang sudah disiapkan di Baluran.

Keberhasilan rekomendasi GSMP untuk pemasangan individu dalam pengelolaan perkembangbiakan juga telah membuahkan keberhasilan dimana telah lahir beberapa anakan banteng. Pada tanggal 23 Mei 2017, lahir anak banteng berjenis kelamin jantan yang diberi nama Barja (T0015) di TN Baluran dari induk pejantan Doni (SB# 2322) dan betina Uci (SB#2500). Selain itu, di TSI Bogor juga telah lahir anakan banteng berjenis kelamin betina yang diberi nama Untari (SB# T0024) pada 18 November 2017.

Sementara itu, Bali Safari & Marine Park juga berhasil mendapatkan anakan banteng jantan yang diberi nama Tiro (T0023) yang lahir pada 7 Juni 2017 dari induk jantan Telepa (2264) dan induk betina Yuanda (2268). Pada tahun 2017 di TSI Prigen berhasil mendapatkan 5 anakan banteng yang lahir terdiri dari 1 jantan diberi nama Dimas (T0020) dan 4 betina bernama Lili (T0017), Tika (T0018), Susi (T0019), dan Tessi (T0022). Kelahiran anakan banteng ini merupakan upaya baik dan buah dari kerja keras dari LK untuk terus mendukung upaya konservasi banteng dalam memenuhi target populasi di ex-situ.

Drh. Ivan Chandra, selaku kurator di TSI Prigen sekaligus Studbook Keeper Nasional dan Internasional Banteng mengapresiasi keberhasilan perpindahan banteng ini. “Ini adalah pertama kalinya perpindahan satwa yang melibatkan berbagai instansi. Biasanya hanya antar LK, namun kali ini juga dengan taman nasional. Hal ini sangat bagus untuk mendorong peran konservasi ex-situ yang harus selalu terkait dengan in-situ,” ujar drh. Ivan yang mengomentari keberhasilan perpindahan banteng ini.

Sesuai dengan yang disampaikan drh.Ivan, PKBSI-GSMP berharap rekomendasi GSMP dapat dilakukan secara sinergi oleh semua pihak guna mendapatkan populasi satwa di ex-situ dengan keragaman genetik yang terbaik. Keberhasilan perpindahan banteng ini dapat mendorong juga keberhasilan serupa bagi satwa lainnya yang dikelola GSMP sesuai target yang diinginkan.