Back
Banteng, Satwa Tangguh yang Semakin Terancam Punah
Author Susi
Wednesday, Dec 20, 2017 11:39 am
Banteng, Satwa Tangguh yang Semakin Terancam Punah

Tubuh yang besar dan didukung dengan tenaga yang kuat tidak menjamin keberhasilan suatu jenis dalam bertahan hidup. Hal inilah yang dialami oleh banteng. Di habitatnya sendiri, banteng terus mengalami penurunan populasi yang sangat mengkhawatirkan. Musuh terbesar bagi satwa liar termasuk banteng justru berasal dari manusia itu sendiri. Manusia yang tidak bertanggung jawab justru merusak hutan dan memburu banteng untuk diambil tanduknya. Aktivitas yang demikian yang menyebabkan penurunan populasi banteng di alam. Oleh IUCN pun, banteng digolongkan ke dalam status Terancam Punah (Endangered).

Taksonomi Banteng

Banteng (Bos javanicus) adalah kelompok sapi liar yang dapat ditemukan di daratan Asia termasuk Indonesia. Banteng di Indonesia dapat ditemukan di Jawa dan Kalimantan yang diduga merupakan subspesies yang berbeda, yaitu B. javanicus javanicus untuk banteng yang terdapat di Pulau Jawa dan B. javanicus lowi atau yang dikenal dengan nama lokal Tembadau, untuk banteng yang terdapat di Kalimantan. Sementara itu, banteng yang ditemukan di kawasan Asia Tenggara antara lain Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, dan Kamboja merupakan subspesies yang berbeda yaitu B. javanicus birmanicus. Ketiga subspesies ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli taksonomi dan perlu adanya suatu penelitian genetik dari sampel tiap subspesies untuk mengkonfirmasi masalah taksonomi tersebut. Secara umum, banteng Jawa memiliki tubuh yang terbesar sementara banteng di Kalimantan memiliki tubuh terkecil di antara ketiga subspesie Bos javanicus.

Biologi Banteng

Secara umum, banteng merupakan satwa yang dapat dibedakan secara seksual dimana pejantan berwarna hitam gelap dan betina berwarna cokelat kemerahan. Untuk banteng yang belum dewasa, perbedaan antara jantan dan betina masih sulit dibedakan. Banteng bercak putih di kakinya serta tanduk. Banteng jantan memiliki bobot 625-785 kg sementara banteng betina 590-670 kg. Mereka memiliki bercak putih di atas matanya. Tanduk pada pejantan lebih besar daripada betina yaitu berkisar 60-75 cm dan dasarnya melekat di area dahi. Banteng memiliki panjang tubuh berkisar 190-225 cm dengan panjang ekor berkisar 65-70 cm.

Banteng umumnya menghuni hutan terbuka yang kering kering dengan curah hujan yang rendah, dan juga di habitat padang rumput. Mereka menyukai habitat dengan topografi yang datar dan tidak terlalu bergelombang. Mereka mengkonsumsi pakan berupa rumput, daun, buah-buahan, dan tunas pohon. Mereka umumnya hidup dalam koloni dimana satu koloni biasanya terdiri dari 10 atau lebih individu dengan dipimpin oleh satu pejantan yang dominan.

Banteng dapat kawin sepanjang tahun dimana mereka memasuki usia reproduktif sekitar 2-3 tahun. Masa kehamilan sekitar 285 hari dengan berat anakan 20-27 kg. Umumnya banteng melahirkan satu anakan meskipun pada beberapa kasus yang jarang terjadi, dapat melahirkan dua anakan sekaligus. Anak banteng akan disapih hingga berusia 6-9 bulan. Banteng dapat mencapai usia 11-20 tahun dan pada beberapa kasus dapat mencapai sekitar umur 25 tahun.

Konservasi Banteng

Ada banyak faktor yang menyebabkan populasi banteng di alam terus mengalami penurunan, antara lain kerusakan dan alih fungsi lahan, perburuan liar terutama tanduknya, hibridisasi dengan sapi ternak dan penyakit menular dari sapi ternak, serta ancaman dari predator alaminya seperti ajag (Cuon alpinus). Banteng di Jawa Timur sering diburu terutama yang merusak lahan pertanian dan perkebunan. Fragmentasi lahan yang menjadi habitat banteng menyebabkan populasi besar terpecah menjadi populasi yang semakin kecil yang menyebabkan resiko perburuan akan semakin besar pula.

Banteng merupakan satwa yang sudah terancam punah (Endangered) berdasarkan status konservasi IUCN. Banteng masuk dalam daftar jenis yang diprioritaskan untuk dikonservasi oleh pemerintah Indonesia dan untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10% berdasarkan Permenhut P.57/2008 dan SK Dirjen KSDAE No. SK.180/IV-KKH-2015. Untuk mewujudkan upaya konservasi tersebut, pemerintah juga telah menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) untuk banteng. Selain itu, banteng juga masuk dalam program Rencana Global Pengelolaan Jenis (Global Species Management Plan/GSMP) bersama dengan anoa, babirusa, dan harimau Sumatra. Program ini merupakan kerjasama antarregional Lembaga Konservasi di Indonesia, Eropa, dan Amerika untuk mengkonservasi jenis yang masuk dalam program GSMP. Program ini menekankan mengenai aksi konservasi melalui program edukasi dan kampanye mengenai jenis yang ada dalam program. Selain itu, program ini juga menghasilkan rekomendasi perkembangbiakkan dan pemindahan satwa antar LK untuk menghindari terjadinya inbreeding agar didapat populasi di LK yang memiliki keragaman genetik yang baik. Saat ini, populasi banteng di lembaga konservasi ex-situ secara global adalah sejumlah 283 individu dan ditargetkan dapat mencapai 300 individu pada tahun 2020. Populasi dalam LK ini diharapkan dapat menjadi cadangan atau stok untuk berikutnya dapat dilepasliarkan kembali ke alam jika kondisi habitat alami sudah baik dan aman dari ancaman di lingkungannya. Kita semua mengharapkan populasi banteng dan satwa liar lainnya dapat semakin meningkat ke depannya dan hal tersebut menjadi tugas dan tanggung jawab semua pihak untuk turut menjaga dan mengkonservasi mereka.