Back
Mari Mengenal Satwa Babirusa, Jenis Babi yang Unik dengan Taring Khasnya
Author Susi
Wednesday, Dec 20, 2017 11:47 am
Mari Mengenal Satwa Babirusa, Jenis Babi yang Unik dengan Taring Khasnya

Indonesia sangat beruntung karena memiliki banyak satwa khas yang endemik khususnya di Pulau Sulawesi yang merupakan daerah perbatasan garis Wallacea. Salah satunya adalah babirusa, satwa yang khas dengan taring atas yang muncul dan menonjol keluar dari mulutnya dan mengarah ke belakang. Keunikan taring pada babirusa tersebut juga menjadi incaran para pemburu. Populasi babirusa semakin menurun di alam karena terus diburu untuk diambil taring dan dikonsumsi dagingnya. Selain itu, habitat mereka pun terus berkurang karena hutan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan penambangan.

Taksonomi Babirusa

Babirusa dahulu dikenal hanya ada satu jenis yaitu Babyrousa babyrussa dengan empat anak jenis, namun sekarang mereka sudah ditingkatkan menjadi jenis tersendiri yaitu Babyrousa babyrussa di Pulau Sula dan Pulau Buru, Babyrousa celebensis di daratan Sulawesi, dan Babyrousa togeanensis di Kepulauan Togian yaitu di Pulau Malenge, Talatakoh, Togean, dan Batudaka. Perbedaan ketiganya terletak pada warna tubuhnya. Babirusa di Pulau Sula dan Pulau Buru rambutnya tebal dan panjang berwarna krem keemasan atau hitam. Babirusa di daratan Sulawesi kulitnya kasar berwarna abu-abu kecokelatan dengan sedikit bercak rambut gelap. Sementara itu babirusa di Kepulauan Togian, rambutnya berwarna cokelat hingga hitam dan bagian bawah tubuhnya berwarna lebih terang. Selain ketiga jenis tersebut, dikenal pula jenis Babyrousa bolabatuensis yang persebarannya di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan, namun jenis ini sudah dinyatakan punah.

Biologi Babirusa

Tubuh babirusa berukuran sedang dengan panjang berkisar 85-110 cm dan berat 43-100 kg. Babirusa mirip dengan jenis babi pada umumnya dari segi postur dan penampakan fisiknya. Ukuran tubuh babirusa merupakan yang terbesar jika dibandingkan semua anggota di famili Suidae dengan ukuran tubuh jantan yang lebih besar dari betina.

Ciri khas babirusa adalah taring yang memanjang dan menonjol keluar dari mulutnya. Struktur tersebut adalah gigi caninus atau gigi taring sebelah atas yang tumbuh terus hingga keluar dari mulutnya dan menembus bagian atas mulut dan mengarah ke belakang ke arah dahi. Panjang taring tersebut dapat mencapai 30 cm dan umumnya terdapat pada individu jantan sementara di betina relatif kecil atau bahkan tidak ada. Meskipun besar dan runcing, namun taring tersebut bukan sebagai alat untuk menyerang, namun hanya digunakan untuk melindungi bagian muka karena strukturnya relatif rapuh. Sementara itu, gigi taring bawah yang juga berukuran cukup panjang merupakan bagian yang digunakan sebagai alat untuk menyerang. Taring juga berperan sebagai alat penarik perhatian lawan jenis dimana taring yang besar menunjukkan vitalitas pejantan dan lebih dipilih sebagai pasangan kawin.

Babirusa dapat mencapai umur 24 tahun dan tidak ada perbedaan umur yang signifikan antara usia harapan hidup di alam dan di penangkaran. Babirusa umum dijumpai di habitat hutan hujan tropis dataran rendah yang lembab dan perkebunan dekat tepi sungai, rawa, aliran air, dan danau. Mereka tidak menyukai habitat semak yang rapat. Mereka juga tergolong satwa omnivora. Mereka memakan dedaunan, buah-buahan, kacang-kacangan, serangga, ikan, mammal kecil, dan jamur. Mereka juga kerap dijumpai sedang mengais di pohon tumbang yang telah membusuk untuk mencari ulat atau cacing.

Sistem perkawinan di babirusa melihat hierarki dominansi pejantan dan bersifat bergiliran. Pejantan menggunakan taringnya untuk berkelahi dimana yang memenangi perkelahian berhak mengawini beberapa betina. Musim kawin umumnya terjadi Januari hingga Agustus. Masa kebuntingan babirusa betina adalah 150-157 hari dan biasanya sekitar 1-2 anakan setiap melahirkan. Bobot anakan yang baru lahir berkisar 380-1050 gram. Mereka biasanya lahir di awal bulan setiap tahunnya dengan kelahiran umumnya satu kali dalam setahun. Mereka disapih hingga umur 6-8 bulan. Anakan akan mulai mengkonsumsi pakan yang keras ketika berumur 10 hari. Individu muda mencapai umur kematangan seksual saat berumur 1-2 tahun.

Babirusa tergolong satwa diurnal dimana waktu paling aktifnya adalah di pagi hari. Mereka sering menghabiskan sebagian besar waktu hariannya untuk berbaring dan tidur, mereka juga suka berkubang di lumpur. Mereka juga tergolong satwa yang cukup vokal terutama ketika sedang bahagia. Babirusa tergolong satwa yang relatif soliter terutama pejantan, namun betina dewasa juga suka berada dalam kelompok kecil dengan beberapa anakan dan remaja. Seekor babirusa jantan yang dominan juga kerap dijumpai berada dalam kelompok kecil. Induk babirusa sering membuat sarang dari rumput, ranting, dan dedaunan yang ada.

Konservasi Babirusa

Karena hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan dan juga karena perburuan untuk dikoleksi taring dan dagingnya yang sering dikonsumsi, populasi babirusa merosot tajam di alam. Mereka digolongkan ke dalam status konservasi Rentan (Vulnerable) untuk B. babyrussa dan B. celebensis dan Terancam (Endangered) untuk B. togeanenesis berdasarkan status konservasi IUCN. Populasinya di alam diduga sudah kurang dari 2500 individu. Mereka juga masuk dalam Appendix I CITES yang artinya perdagangannya sudah dilarang sama sekali.

Untuk konservasi di tingkat nasional, babirusa juga sudah dimasukkan dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan PP No. 7 tahun 1999 dan dalam daftar jenis yang diprioritaskan untuk dikonservasi sesuai Permenhut P.57/2008. Babirusa juga masuk dalam daftar 25 jenis terancam punah yang diprioritaskan untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10% sesuai SK Dirjen KSDAE No. SK.180/IV-KKH/2015. Sebagai upaya penguatan konservasi tersebut, maka pemerintah juga telah menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) untuk babirusa sesuai Permenhut P.55/Menhut-II/2013.

Penurunan populasi babirusa menjadi perhatian dan tugas kita bersama. Kita wajib menjaga habitat babirusa agar tidak semakin berkurang dan secara masif menggalakkan konservasi babirusa karena mereka adalah satwa khas asli Indonesia yang menjadi kebanggaan khususnya di daerah Sulawesi. Babirusa juga masuk ke dalam program Rencana Global Pengelolaan Jenis (Global Species Management Plan/GSMP) yang merupakan kerjasama kolaborasi antar institusi konservasi di berbagai negara untuk mengkonservasi jenis satwa tertentu. Dengan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak baik dalam negeri maupun luar negeri, maka kita berharap populasi dan habitat babirusa akan terus membaik dan meningkat jumlahnya.



Sumber Referensi:

Macdonald, A.A., Burton, J. & Leus, K. 2008. Babyrousa babyrussa. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T2461A9441445.enDownloaded on 15 August 2017.