Back
Anoa, Kerbau Mungil Khas Sulawesi yang Terancam Punah
Author Susi
Wednesday, Dec 20, 2017 11:54 am

Sulawesi terkenal sebagai salah satu pulau dengan satwa endemik yang cukup tinggi. Endemisitas ini disebabkan karena Sulawesi merupakan daerah yang dilewati oleh Garis Wallacea sehingga spesies flora dan fauna yang ada di Sulawesi merupakan gabungan ciri khas spesies kawasan Asia dan Australasia. Selain itu, Sulawesi dikelilingi oleh Samudera yang dalam dan luas sehingga kemungkinan satwa yang ada untuk menyeberang ke pulau sebelahnya relatif mustahil terjadi. Akibat adanya isolasi yang terjadi dan sejarah area biogeografi tersebut, maka banyak satwa yang endemik di Sulawesi. Salah satu yang menjadi ciri khas adalah Anoa yang telah menjadi maskot fauna dan flagship species konservasi di Sulawesi sehingga menjadi identitas fauna Sulawesi di tingkat nasional maupun internasional.

Taksonomi Anoa

Anoa di Sulawesi terbagi menjadi dua jenis yaitu Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Kedua jenis ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli taksonomi. Beberapa menyimpulkan bahwa mereka adalah jenis yang berbeda, namun ada juga yang berkeyakinan bahwa keduanya adalah jenis yang sama dimana perbedaan yang terlihat diduga hanya merupakan perbedaan karakteristik umur atau karena variasi genetik dalam satu jenis.

Biologi Anoa

Secara umum, anoa merupakan kerabat dekat dengan kerbau yang ukuran tubuhnya lebih kecil. Anoa sendiri berasal dari bahasa daerah di Sulawesi yang berarti kerbau. Panjang tubuhnya berkisar 120-180 cm dengan bobot 150-300 kg. Beberapa perbedaan antara anoa dataran rendah dan anoa pegunungan adalah dari ukuran tubuh, ekor, dan bentuk tanduknya. Anoa dataran rendah memiliki tubuh yang relatif lebih besar dengan ekor yang relatif lebih panjang dibanding anoa pegunungan. Selain itu, tanduk anoa dataran rendah juga relatif lebih panjang (sekitar 30 cm) dan berbentuk triangular sementara pada anoa pegunungan agak melingkar dengan panjang tanduk sekitar 15-20 cm. Tanduk di anoa terdapat pada jantan dan betina, namun tanduk betina lebih pendek. Tanduk mereka digunakan untuk menandai daerah teritori dan untuk menarik perhatian lawan jenis.

Anoa hidup di hutan tropis dan savana yang jauh dari aktivitas manusia. Mereka senang berada di dekat sumber air seperti tepi sungai. Anoa hanya berada di Sulawesi dan Pulau Buton. Mereka dapat ditemukan di Sulawesi bagian tengah, dari ujung timur hingga selatan. Belum diketahui secara pasti apakah anoa dataran rendah dan anoa pegunungan hidup secara simpatrik atau parasimpatrik.

Anoa merupakan satwa herbivor yang mengkonsumsi daun atau buah-buahan. Mereka juga mengkonsumsi tanaman air, tumbuhan paku-pakuan, rumput, dan batang yang masih muda.

Usia harapan hidup anoa di alam dapat mencapai 20 tahun sementara di penangkaran dapat mencapai 20-30 tahun. Di penangkaran, anoa dataran rendah memasuki usia kawin saat berada di umur 2-3 tahun. Mereka umumnya menghasilkan satu anakan setiap tahunnya. Perkawinan terjadi sepanjang tahun. Masa mengandung atau gestasi induk betina yaitu 275-315 hari. Individu betina umumnya akan menyendiri ketika akan melahirkan. Betina akan menyapih anaknya dalam jangka waktu 6-9 bulan setelah melahirkan. Di habitat alaminya, anakan yang dihasilkan tidak dapat sebanyak saat di penangkaran. Umur reproduktifnya biasanya berhenti saat berusia 7-9 tahun.

Anoa merupakan satwa diurnal yang aktif di pagi hari dan akan berteduh saat siang hari. Mereka adalah satwa yang hidup soliter meskipun betina dan anaknya dapat dijumpai bersama dalam kelompok kecil hingga 5 individu. Pejantan dewasa merupakan satwa yang menandai daerah teritorialnya dengan cara menandai pohon dengan tanduknya dan menggaruk tanah setelah buang air. Anoa merupakan satwa yang agresif terutama saat musim birahi dan apabila induk sedang memiliki anak.

Konservasi Anoa

Beberapa studi populasi anoa menunjukkan anoa mengalami penurunan populasi yang cukup mengkhawatirkan. Penelitian oleh Mustari (1995) menunjukkan populasi anoa di Sulawesi Tenggara sejumlah 2,4 ekor/km2. Lalu penelitian serupa pernah dilakukan kembali oleh Mustari (2003) dimana hasilnya menurun menjadi 1,1-1,6 ekor/km2. Penurunan populasi tersebut nyata terjadi terutama dalam 2 dekade terakhir akibat perburuan untuk diambil dagingnya dan hilangnya habitat alami mereka.

Anoa digolongkan dalam status konservasi Terancam punah (Endangered) oleh IUCN dan masuk dalam kategori Appendix I CITES. Populasinya di alam diduga sudah kurang dari 2500 individu. Di tingkat nasional, anoa masuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan PP No. 7 tahun 1999. Anoa juga masuk dalam daftar jenis prioritas dan 25 jenis satwa terancam punah yang diprioritaskan untuk ditingkatkan populasinya sebesar 10% berdasarkan Permenhut P.57/2008 dan SK Dirjen KSDAE No. SK.180/IV-KKH/2015. Untuk mewujudkan upaya tersebut, maka pemerintah juga telah menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) untuk anoa dari tahun 2013-2022.

Perlu adanya perhatian bersama dari semua instansi yang terlibat untuk mendukung usaha konservasi jenis anoa salah satunya melalui kerjasama Rencana Global Pengelolaan Jenis (Global Species Management Plan/GSMP) dengan anoa sebagai salah satu kelompok spesies yang ditargetkan untuk dikembangbiakkan populasi secara ex-situ. Menjadi tanggung jawab kita bersama untuk kelancaran program ini demi meningkatnya populasi anoa dengan keragaman genetik yang baik.

 

Sumber Referensi:

Burton, J., Wheeler, P. & Mustari, A. 2016. Bubalus depressicornis. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T3126A46364222. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-2.RLTS.T3126A46364222.enDownloaded on 15 August 2017.

Burton, J., Wheeler, P. & Mustari, A. 2016. Bubalus quarlesi. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T3128A46364433. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-2.RLTS.T3128A46364433.enDownloaded on 15 August 2017.

Mustari, A.H. 2003. Ecology and conservation of lowland Anoa (Bubalus depressicornis) in Sulawesi, Indonesia. Disertation. University of New England. England. (Unpublished).