Back
Workshop Anoa & Babirusa
Author Susi
Monday, Dec 4, 2017 3:42 pm
Workshop Anoa & Babirusa
Sulawesi merupakan pulau dengan berbagai jenis satwa endemik karena letak geografisnya yang berada di antara kawasan Asia dan Australia sehingga tergolong merupakan satwa jenis peralihan dari kedua kawasan tersebut. Anoa dan babirusa merupakan dua jenis satwa khas endemik di Sulawesi yang populasinya di alam terus mengalami penurunan akibat maraknya perburuan illegal dan kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan dan penambangan liar. Anoa dan babirusa sering diburu untuk dikonsumsi dan diambil tanduk serta taringnya. Ancaman tersebut menjadi fokus perhatian untuk meningkatkan upaya penyelamatan anoa dan babirusa yang merupakan jenis satwa yang masuk dalam program rencana global pengelolaan jenis (Global Species Management Plan/GSMP) di Indonesia selain banteng dan harimau Sumatra. Upaya program GSMP bagi konservasi anoa dan babirusa adalah dengan menyelenggarakan pelatihan dan workshop. Pelatihan dan workshop diadakan dalam dua agenda yaitu tanggal 22-24 Oktober di Taman Margasatwa Ragunan untuk staff LK yang memiliki anoa dan babirusa, serta tanggal 26-28 Oktober di Citra Satwa Celebes Makassar untuk staff BKSDA dan Balai Taman Nasional serta dokter hewan dan LK di Sulawesi.

Pelatihan dan workshop ini merupakan hasil kerjasama PKBSI dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, IUCN SSC Asian Wild Cattle Specialist Group (AWCSG), Taman Safari Indonesia, PDTS. Kebun Binatang Surabaya, Anoa Breeding Center Manado, Chester Zoo, Audubon Zoo, dan Santa Barbara Zoo. Kegiatan ini juga berhasil diselenggarakan dari dukungan berbagai LK yang ada di dalam negeri maupun luar negeri melalui program GSMP.  Pelatihan ini diisi oleh trainer baik dari dalam negeri maupun luar negeri antara lain Drh. Yohana Tri Hastuti (Taman Safari Cisarua, Bogor), Sri Pentawati, S.Pt. (PDTS. Kebun Binatang Surabaya), Drh. Adven TAJ Simamora (Anoa Breeding Center Manado), Sarah Roffe (Chester Zoo), Joseph Forys (Audubon Zoo), dan Elizabeth Wilson (Santa Barbara Zoo). Selain itu, pelatihan dan workshop ini juga sukses diselenggarakan atas bantuan Dr. Drh. Ligaya ITA Tumbelaka, Sp.MP., M.Sc. (PKBSI/IPB), Prof. Dr. Gono Semiadi  (PKBSI/LIPI), dan Dr. James Burton (IUCN SSC AWCSG) selaku fasilitator dari acara ini.

Acara di TM Ragunan diikuti oleh 12 peserta dari 9 LK sementara di Citra Satwa Celebes Makassar diikuti oleh 29 peserta dari 14 institusi. Materi yang diberikan secara garis besar sama, meliputi pemeliharaan dan pemindahan anoa dan babirusa serta berbagai penanganan medis yang dapat dilakukan. Materi yang diberikan di TM Ragunan lebih menekankan kepada keberhasilan pemeliharaan dan pemindahan untuk mendukung keberhasilan implementasi rekomendasi GSMP bagi setiap LK. Setiap peserta juga diajak berdiskusi mengenai cara-cara pemeliharaan yang mereka lakukan untuk satwa anoa dan babirusa di Lknya masing-masing meliputi perkandangan, pakan kelompok sosial, berbagai hal yang harus diperbaiki dalam pengelolaan anoa dan babirusa, serta solusi-solusi dari kendala yang muncul dari pelaksanaan rekomendasi tersebut. Hal yang menjadi perhatian adalah mengenai desain kandang anoa dan babirusa yang dapat lebih ditingkatkan terutama dari segi pengayaan atau enrichment. Dengan adanya Drh. Yohana Tri Hastuti dan Sri Pentawati, S.Pt. sebagai studbook keeper anoa dan babirusa, pelatihan ini juga membahas mengenai perkembangan anoa dan babirusa di masing-masing LK untuk sebagai pembaruan informasi dan data.

Sementara itu, materi pelatihan yang diberikan di Citra Satwa Celebes Makassar lebih menekankan kepada pemeliharaan dan pemindahan anoa dan babirusa yang merupakan hasil sitaan atau penyelamatan dari alam mengingat BKSDA dan Balai Taman Nasional merupakan instansi yang akan terkait langsung dalam menangani anoa dan babirusa yang berkonflik dengan penduduk sekitar di Sulawesi. Materi pemeliharaan yang dipaparkan pun sama, meliputi desain kandang sementara, pakan, perawatan sehari-hari, kelompok sosial, serta penanganan darurat dan penanganan medis bagi anoa dan babirusa yang mengalami gangguan kesehatan. Materi pemindahan anoa dan babirusa pun lebih menekankan kepada pemindahan untuk penyelamatan satwa dari lokasi penyelamatan ke lokasi pemeliharaan sementara sesuai protokol yang ada. Peserta pelatihan di Citra Satwa Celebes tidak hanya berasal dari BKSDA dan Balai Taman Nasional, namun juga dari dokter hewan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan, Balai Besar Veteriner Maros, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin, dan LK yang ada di Sulawesi yaitu Citra Satwa Celebes dan Gowa Discovery Park.

Kedua acara pelatihan tersebut juga diisi diisi dengan praktek lapang agar para peserta dapat mempraktekkan langsung langkah-langkah dalam pemindahan anoa menggunakan kandang transport dengan bantuan papan untuk menggiring anoa masuk ke dalam kandang transport. Untuk praktek lapang di Citra Satwa Celebes Makassar, peserta juga dilatih untuk menilai kondisi kesehatan anoa berdasarkan skor penilaian kondisi tubuh. Hal ini dikarenakan tidak semua BKSDA dan Balai Taman Nasional memiliki dokter hewan sehingga diharapkan staffnya dapat melakukan penilaian sementara terhadap kondisi kesehatan satwa sebelum penanganan lanjut dari dokter hewan. Selain itu, peserta di Makassar juga melakukan simulasi atau skenario penyelamatan satwa menggunakan kambing sebagai hewan pengganti. Peserta melakukan skenario apabila mereka menerima telepon dari masyarakat untuk menyelamatkan atau menangani anoa atau babirusa berdasarkan protokol yang ada. Dengan demikian, setiap peserta diharapkan akan mulai terbiasa untuk siap menangani kasus serupa dalam praktek ke depannya.

Peserta pelatihan baik yang di TM Ragunan maupun di Citra Satwa Celebes Makassar menunjukkan semangat dan antusiasme yang tinggi selama pelatihan. Kita berharap agar mereka dapat menerapkan ilmu yang didapat selama pelatihan untuk pemeliharaan anoa dan babirusa yang lebih baik lagi dan dapat lebih baik lagi dalam menangani anoa dan babirusa yang berkonflik di Sulawesi dan sekitarnya. 
Indonesia Zoo & Aquarium Association
RSS Feed